Minggu, 25 Desember 2016

Ujian Praktik Menulis

Berakhir
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih saja keluar karena sisa mabuk semalam. Sebotol minuman dengan kacanya yang hijau masih berada di sampingnya, tidak lupa dengan sisa isinya yang tumpah diatas lantai putih kamar 060 itu. Beberapa pil obat-obatan juga menghiasi kasur berselimut putih di situ. Tirai yang masih menutupi jendela. Pintu yang tidak terkunci, barang-barang berserakan di sana-sini, menandakan bahwa sang pengisi kamar memang “Hangover” semalam.
Sore hari kemarin, dengan terkantuk-kantuk aku ambil sabun pencuci muka dari dalam tas kuliah dan langsung menuju wastafel kamar. Aku basuh muka kusut yang semalam penuh ku gunakan untuk menghadap layar laptop dengan dalih untuk menyelesaikan skripsi. Bahkan aku lupa kapan waktuku mulai tertidur dengan kepala berada di atas keyboard laptop. Aku memang bekerja keras menyelesaikan tugas akhir ini.
Beberapa menit kemudian, Chintia meneleponku. Chintia adalah seorang perempuan berbadan semampai dan anggun. Wajahnya cantik dengan sepasang mata yang bersih dan dinaungi alis tebal. Ia gadis tamatan SMA. Temanku dulu yang terkenal bisa menggandeng hampir semua laki-laki tenar di sekolah.
Tidak biasanya, Chintia meneleponku dengan suara yang resah. Dari ujung sana, terdengar suara yang menggebu-gebu.
“Nay, Dio mutusin aku, bisnis orang tuaku hancur, aku nggak bisa nerusin atau ngelakuin hal apapun karena keterbatasan pengetahuan. Aku hancur sehancur-hancurnya. Temen-temen aku juga lambat laun ninggalin aku. Aku harus apa?” Tangisnya.
“Sekarang kamu lagi di mana?”
“Kostnya Naomi, dekat PIM.”
Tanpa babibu, aku langsung mengambil kunci mobil dan menuju kost Naomi untuk menjemput Chintia. Aku putar beberapa lagu klasik untuk menemaniku di perjalanan. Lagu ini memang membantuku untuk sedikit menetralisir pikiran yang memang sedang kacau balau akhir-akhir ini. Tidak lupa sebatang rokok aku nyalakan sambil membuka kedua jendela kursi depan mobil untuk menikmati sepoi angin dari jalan tol ini.
Alasan dari kekacauan pikiranku akhir-akhir ini, tidak lain dan tidak bukan karena adanya gangguan terhadap pekerjaan yang sedang aku lakukan. Padahal, uang dari pekerjaan ini selalu aku sisakan untuk Emak di kampung. Belum lagi tuntutan dari pekerjaan yang benar-benar mengharuskan aku untuk lebih fokus, sehingga kuliah semester akhirku memang harus ditinggalkan. Atau harus aku selesaikan dalam waktu dekat.
“Nay, kita mau ke mana?” Tanya Chintia yang seketika memecahkan keheningan mobilku yang hanya dihiasi lantunan musik dari Dream Theater.
“Apartment aku aja, dari pada di sini. Kamu boleh tinggal di tempatku sampai benar-benar siap pulang ke rumah.”
“Makasih Nay, aku nggak tau musti ngebales gimana.”
Aku tersenyum, jantungku berjalan dengan detakan seperti biasa. Aku melakukan ini karena memang Chintia adalah orang yang mengenalkanku dengan dunia ini. Karena dia, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang untungnya besar ini. Dari dia pula, aku bisa mencukupi kebutuhan janda gado-gado kampung yang aku sapa “Emak.” Aku melakukan ini untuk membalas yang telah Ia lakukan kepadaku.
Malam ini, aku meninggalkan Chintia sendirian bersama beberapa hal yang Ia perlukan di apartmentku, seperti makanan, minuman, video games, dan beberapa botol minuman beralkohol di dekat kamar mandi. Aku meninggalkannya agar Ia bisa beristirahat sejenak sambil memikirkan masalahnya, sedangkan aku?? Ada beberapa urusan penting perihal pekerjaan yang harus aku lakukan di luar.
Tidak sampai 10 jam kemudian, aku kembali dan membuka pintu apartment dihiasi beberapa bungkus putih yang merupakan  pesanan temanku dari Makassar. Aku langsung menyelesaikan beberapa pekerjaanku, mengambil tas ranselku dan pergi keluar karena aku tidak ingin membangunkan Chintia. Saat itu aku mengerti bahwa Chintia memang sedang berada di dalam pikiran yang tidak jauh kacaunya dengan pikiranku. Seakan aku bisa merasakan bahwa Ia memang sedang di dalam keterpurukan yang amat sangat mendalam. Sejatinya manusia yang sedang di dalam posisi ini akan mengambil banyak tindakan tidak terduga tanpa memikirkan dampak panjangnya. Aku bisa menyimpulkan, Ia termasuk orang di dalam posisi ini.
Kenapa tidak?
Chintia telah mengambil sebotol minuman beralkoholku di dekat kamar mandi. Campurannya yang berisi dosis tinggi telah mengalir masuk melalui tenggorokannya. Kalau Ia memang benar-benar masih punya akal sehat, seharusnya Ia tahu kalau Ia lah yang telah mengenalkan aku dengan perkerjaan ini, pekerjaan menjual obat-obatan terlarang beserta minuman keras lainnya.
Kini, aku harus pergi meninggalkannya di apartmentku. Meskipun sialnya, aku kehilangan orang yang sudah membantu hidup ku dan menjadi seorang buronan, namun jantungku tetap berlonjak-lonjak girang karena berakhir lah hidup dari seorang wanita yang telah membawa hidupku ke jalur masuk neraka ini. 

1 komentar:

  1. OK, terima kasih. Dicek kembali penulisan kata ganti "Ia", mestinya tidak perlu diawali kapital. Selain itu, saya merasa Anda masih terjajah oleh cerita "dasar" yang Anda baca. Coba lepaskan dirimu dari bayang-bayang itu sehingga Anda hadir lebih nyata, sebagai Virdha yang asli.

    BalasHapus