Berakhir
Wanita muda itu
terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Busa di mulutnya masih saja keluar karena
sisa mabuk semalam. Sebotol minuman dengan kacanya yang hijau masih berada di
sampingnya, tidak lupa dengan sisa isinya yang tumpah diatas lantai putih kamar
060 itu. Beberapa pil obat-obatan juga menghiasi kasur berselimut putih di situ.
Tirai yang masih menutupi jendela. Pintu yang tidak terkunci, barang-barang
berserakan di sana-sini, menandakan bahwa sang pengisi kamar memang “Hangover”
semalam.
Sore hari kemarin, dengan
terkantuk-kantuk aku ambil sabun pencuci muka dari dalam tas kuliah dan
langsung menuju wastafel kamar. Aku basuh muka kusut yang semalam penuh ku
gunakan untuk menghadap layar laptop dengan dalih untuk menyelesaikan skripsi.
Bahkan aku lupa kapan waktuku mulai tertidur dengan kepala berada di atas
keyboard laptop. Aku memang bekerja keras menyelesaikan tugas akhir ini.
Beberapa menit
kemudian, Chintia meneleponku. Chintia adalah seorang perempuan berbadan
semampai dan anggun. Wajahnya cantik dengan sepasang mata yang bersih dan
dinaungi alis tebal. Ia gadis tamatan SMA. Temanku dulu yang terkenal bisa
menggandeng hampir semua laki-laki tenar di sekolah.
Tidak biasanya, Chintia
meneleponku dengan suara yang resah. Dari ujung sana, terdengar suara yang
menggebu-gebu.
“Nay, Dio mutusin aku,
bisnis orang tuaku hancur, aku nggak bisa nerusin atau ngelakuin hal apapun
karena keterbatasan pengetahuan. Aku hancur sehancur-hancurnya. Temen-temen aku
juga lambat laun ninggalin aku. Aku harus apa?” Tangisnya.
“Sekarang kamu lagi di
mana?”
“Kostnya Naomi, dekat
PIM.”
Tanpa babibu, aku
langsung mengambil kunci mobil dan menuju kost Naomi untuk menjemput Chintia.
Aku putar beberapa lagu klasik untuk menemaniku di perjalanan. Lagu ini memang
membantuku untuk sedikit menetralisir pikiran yang memang sedang kacau balau
akhir-akhir ini. Tidak lupa sebatang rokok aku nyalakan sambil membuka kedua
jendela kursi depan mobil untuk menikmati sepoi angin dari jalan tol ini.
Alasan dari kekacauan
pikiranku akhir-akhir ini, tidak lain dan tidak bukan karena adanya gangguan
terhadap pekerjaan yang sedang aku lakukan. Padahal, uang dari pekerjaan ini
selalu aku sisakan untuk Emak di kampung. Belum lagi tuntutan dari pekerjaan
yang benar-benar mengharuskan aku untuk lebih fokus, sehingga kuliah semester
akhirku memang harus ditinggalkan. Atau harus aku selesaikan dalam waktu dekat.
“Nay, kita mau ke mana?”
Tanya Chintia yang seketika memecahkan keheningan mobilku yang hanya dihiasi
lantunan musik dari Dream Theater.
“Apartment aku aja, dari
pada di sini. Kamu boleh tinggal di tempatku sampai benar-benar siap pulang ke
rumah.”
“Makasih Nay, aku nggak
tau musti ngebales gimana.”
Aku tersenyum,
jantungku berjalan dengan detakan seperti biasa. Aku melakukan ini karena
memang Chintia adalah orang yang mengenalkanku dengan dunia ini. Karena dia,
aku bisa mendapatkan pekerjaan yang untungnya besar ini. Dari dia pula, aku
bisa mencukupi kebutuhan janda gado-gado kampung yang aku sapa “Emak.” Aku
melakukan ini untuk membalas yang telah Ia lakukan kepadaku.
Malam ini, aku
meninggalkan Chintia sendirian bersama beberapa hal yang Ia perlukan di
apartmentku, seperti makanan, minuman, video games, dan beberapa botol minuman
beralkohol di dekat kamar mandi. Aku meninggalkannya agar Ia bisa beristirahat
sejenak sambil memikirkan masalahnya, sedangkan aku?? Ada beberapa urusan
penting perihal pekerjaan yang harus aku lakukan di luar.
Tidak sampai 10 jam
kemudian, aku kembali dan membuka pintu apartment dihiasi beberapa bungkus
putih yang merupakan pesanan temanku
dari Makassar. Aku langsung menyelesaikan beberapa pekerjaanku, mengambil tas
ranselku dan pergi keluar karena aku tidak ingin membangunkan Chintia. Saat itu
aku mengerti bahwa Chintia memang sedang berada di dalam pikiran yang tidak
jauh kacaunya dengan pikiranku. Seakan aku bisa merasakan bahwa Ia memang
sedang di dalam keterpurukan yang amat sangat mendalam. Sejatinya manusia yang
sedang di dalam posisi ini akan mengambil banyak tindakan tidak terduga tanpa
memikirkan dampak panjangnya. Aku bisa menyimpulkan, Ia termasuk orang di dalam
posisi ini.
Kenapa tidak?
Chintia telah mengambil
sebotol minuman beralkoholku di dekat kamar mandi. Campurannya yang berisi
dosis tinggi telah mengalir masuk melalui tenggorokannya. Kalau Ia memang
benar-benar masih punya akal sehat, seharusnya Ia tahu kalau Ia lah yang telah
mengenalkan aku dengan perkerjaan ini, pekerjaan menjual obat-obatan terlarang
beserta minuman keras lainnya.
Kini, aku harus pergi
meninggalkannya di apartmentku. Meskipun sialnya, aku kehilangan orang yang
sudah membantu hidup ku dan menjadi seorang buronan, namun jantungku tetap
berlonjak-lonjak girang karena berakhir lah hidup dari seorang wanita yang
telah membawa hidupku ke jalur masuk neraka ini.