Salbiyah Putri Kesembilan Marthaadmadja
Salbiyah
Marthaadmadja, atau yang sering dipanggil Salbi lahir di Magelang pada tanggal
23 Mei 1964. Beliau merupakan ibu rumah tangga yang sekaligus menjadi putri
ke-9 dari 10 bersaudara di keluarganya. Bapaknya bernama Marthaadmadja, seorang
kepala desa di sebuah desa bernama Bumiayu. Sedangkan Ibunya bernama
Djamilatun, yang juga merupakan seorang ibu rumah tangga. Beliau beserta
keluarganya tinggal di Desa Bumiayu, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang.
Namun kini, setelah menikah Salbi tinggal bersama suaminya di Dusun Candran,
Danurejo, Kecamatan Mertoyudan.
Salbiyah
menghabiskan masa kanak-kanaknya, yakni sejak lahir hingga berumur 15 tahun di
Desa Bumiayu. Selain itu, beliau juga disekolahkan di TK Bumiayu, SDN Bumiayu,
hingga SMP Muhammadiyah Kajoran, yang mana merupakan sekolah-sekolah yang
berada tepat di sekitar tempat tinggalnya. Meskipun lahir di kalangan keluarga
Kades, Salbiyah selalu berjalan kaki untuk menempuh perjalanan ke sekolah,
tempat menuntut ilmunya.
Setelah
lulus dari SMP, Salbiyah berencana meneruskan pendidikannya. Kini, Ia mencoba
keluar dari daerah tempat Ia berasal. Akhirnya beliau memutuskan untuk
melanjutkan pendidikannya di SMA Pemerintah Daerah, Kota Muntilan, atau yang
kini disebut sebagai SMK Bhakti Karya. Selama berada di Kota Muntilan, beliau
memilih tempat naungan di sekitar sekolahnya berada. Selama bersekolah pula
beliau belajar banyak hal seperti menjahit dan memasak. Menurut beliau, hal ini
akan berguna sebagai bekal wanita sebelum memasuki hidup di rumah tangga.
Tidak
berhenti di situ, Salbiyah juga melanjutkan pendidikannya lagi setelah lulus
dari SMA. Kemudian, beliau masuk ke PG SMTP, sebuah sekolah setara universitas
yang ditujukan untuk menjadi calon guru. Di sana, beliau mengenyam pendidikan
geografi selama 2 tahun sebelum memilih untuk kembali ke daerah asalnya.
Kembalinya
Salbiyah tidak lain karena kendala bahwa ayahnya sudah meninggal dunia.
Akibatnya, beliau diharuskan membantu ibunya untuk mengurus rumah sekaligus menjadi
pengajar geografi di sebuah sekolah swasta. Selain itu, beliau juga mempelajari
tata cara sistem pertanian dan berladang dari sang Ibu yang pada saat itu
menjadi Janda Tuan Tanah.
Pada
umurnya yang menginjak 28 tahun, seoran Kades meminangnya. Dari pinangan yang
berlanjut pernikahan ini, mereka dikaruniai 2 orang putri. Meskipun memilih
untuk hengkang dari dunia mengajar, Salbiyah tetap menjadi istri yang mandiri
dengan membuka toko-toko di pasar dan warung kelontong di rumah. Selain itu,
kini beliau juga aktif pada kegiatan-kegiatan keagamaan Kabupaten Magelang yang
kini menjadikannya sebagai Ketua Ranting NU Mertoyudan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar